14
Sep

Mewujudkan Nias Raya untuk Indonesia Raya (3)

Oleh Turunan Gulo
Ketua DPD Himpunan Masyarakat Nias Indonesia (Himni) Sumatra Utara

SEBAGAIMANA ditegaskan di bagian sebelumnya, bahwa Nias itu hanya satu, Tano Niha. Pembelahan 5 kabupaten/kota hanyalah sebagai pemisahan secara administratif.  Nias harus dipandang sebagai sebuah kawasan.  Silakan berlomba untuk melakukan hal terbaik bagi daerahnya masing-masing, namun tidak dalam pengertian egosektoral.

Ada banyak hal yang perlu dikoordinasikan dan dikerjasamakan antardaerah.  Ketimpangan atau kemajuan satu daerah bisa berdampak pada daerah sekitarnya, karena posisi kelimanya dalam satu kawasan. Energi dan kapasitas kita sangat terbatas. Karenanya setiap pimpinan daerah tidak boleh bekerja dengan “isi kepala”-nya masing-masing.

Merebut peluang yang lebih besar membutuhkan kekuatan bersama, bukan perjuangan sendiri-sendiri.  Membangun sinergi antardaerah akan lebih berdampak amat positif.  Pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, bandara semestinya dibicarakan dan dikoordinasikan secara bersama.  Perjuangan Provinsi Nias juga membutuhkan kekuatan dan komitmen bersama.  Demikian juga pembangunan Nias sebagai kawasan khusus  pariwisata, membutuhkan gerak langkah bersama, agar pemerintah di pusat maupun  provinsi terlibat aktif.

Fungsi koordinasi dan komunikasi antarpimpinan daerah merupakan sebuah strategi efektif untuk merebut peluang yang lebih besar, selain untuk merancang program-program strategis. Lalu, keseluruhan program yang dilakukan, mesti bermuara untuk mewujudkan Nias Raya, yang bercirikan maju, sejahtera dan berdaya saing tinggi.

Kita sudah memiliki instrumen untuk itu. Forum Kepala Daerah (Forkada) yang sudah lama dibentuk, seyogyanya dimanfaatkan sebagai jembatan komunikasi yang efektif antarpimpinan daerah.  Forum ini harus fokus membicarakan dan merancang kerja-kerja yang berdampak luas bagi warga dan Kepulauan Nias. Saatnya kita menyiapkan grandstrategy pembangunan Kepulauan Nias, tanpa atau dengan sebuah  Provinsi Kepulauan Nias.

Peluang kita cukup terbentang. Jejaring kita di level nasional mesti dimanfaatkan secara cepat dan tepat.  Atmosfir yang cukup positif dari pemerintah pusat perlu ditindaklanjuti dengan kerja dan kerja. Jemput bola. Tidak boleh pasif.  Peluang tidak datang dua kali. Peluang harus direbut.

 

Merebut Peluang 

Nias yang terpuruk dan didera kemiskinan berkepanjangan, dapat diibaratkan seperti seorang pasien pengidap penyakit parah.  Idealnya, menyembuhkannya haruslah dengan obat yang paten dan dirawat oleh dokter yang cakap dan bertanggungjawab. Sayangnya, selama puluhan tahun, si pasien bernama Nias hanya diberi obat alakadarnya. Sudah obatnya buruk, sialnya, Nias dirawat oleh dokter yang bukan mau menyembuhkan.  Malah sengaja atau tidak, justru memperparah penyakit si pasien.

Bagaimana hal ini dijelaskan? Selama bertahun-tahun, sebelum Nias mekar menjadi 5 kabupaten/kota, Kepulauan  Nias harus menerima kenyataan  sebagai sebuah negeri yang diabaikan. Hal ini tampak dari minimnya anggaran yang diperuntukkan untuk daerah Nias.  Anggaran yang sedikit ini semakin bermasalah, karena teralokasi lebih banyak untuk belanja rutin/tidak langsung.

Situasi ini semakin memburuk ketika pengelolaan anggaran pembangunan yang “tak seberapa” itu tidak dilakukan secara efisien, transparan, adil dan akuntabel.

Selain memastikan tata kelola yang baik (good governance), maka agenda krusial adalah “merebut” peluang anggaran dan program sebanyak-banyaknya dari pusat ke Nias. Salah satu stateginya adalah kesadaran dan keseriusan kita untuk mengirimkan sebanyak mungkin politisi Ononiha ke Senayan.  Tentu, tidak saja kuantitas, tapi juga komitmen dan kualitas juang para politisi yang akan duduk di Senayan. Politisi yang memang sudah lama terlatih moral kerakyatannya, andal, serta  punya visi yang kuat untuk mewujudkan Nias Raya.

Kerja-kerja besar ini perlu didukung oleh semua pihak.  Butuh semangat persatuan.  Bukan sikap saling menjatuhkan.  Bersatu saja kita belum tentu kuat.  Kita butuh pemikir dan pekerja keras,  bukan sekadar tukang kritik tanpa solusi, bukan tukang nyinyir.  Kita butuh orang berpikiran positif, bukan orang yang selalu berpikiran negatif.

Kita terlalu lama tertinggal. Kita perlu bergerak cepat.  Bahkan berlari. Karenanya, kita harus bekerja lebih keras lagi.

Semoga. (Tamat)